Semoga, Tuhan tidak sebut kita sia-sia


Dan ya, lagi-lagi aku keliru.
Tuntutan, keserakahan dan kedengkian akan dunia yang penuh dengan ambisi terus menghantui.
Rasa ego yang berkecamuk, serta kerasnya kepala membuat takut jika pada akhirnya sebuah kabar tak lagi menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu.

Aku tak ingin apa yang selama ini terbayang dipikiran dan apa yang aku tulis hanyalah bualan belaka, karena ternyata aku tak mampu menjadikannya sebuah imajinasi yang nyata. Sedang setiap hari yang kita lalui terasa semakin berat. Hampir saban hari aku berduka pada hari-hariku disetiap kebisingan, menyendiri lalu terisak dan nyatanya menahan segala apapun tak lagi cukup mudah, semuanya kian menyiksa. 

Kamu bilang tak perlu aku menangis,
Lalu, adakah yang dapat mendefinisikan duka selain tangis?

Aku tak mengerti apa yang aku rasa,
rasional menjadi begitu emosional akhir-akhir ini.
Lelahku berubah menjadi amarah yang menghancurkan ketenangan dan kerianganku.
Kekhawatiran dan duga-duga menjadi pesakitan yang mencurigai apa saja dan mengahakimi siapa saja.
Dan aku tahu kita hanya sama-sama manusia biasa, yang tak selalu bisa mengerti, yang tak selalu harus mengerti.

Kisah klasik yang terus berulang, karsa dua manusia asing yang begitu angkuh berharap ingin terus bersama namun acap kali luput akan badai dihadapannya. Atau mereka bilang “kita mengabaikannya”.

Aku yakin, diantara kita tak ada yang benar-benar ingin saling menyakiti,
namun bagaimana jika pada akhirnya kita akan saling menyakiti?



—roses

Komentar

Unknown mengatakan…
Karena kau salah dalam menempatkan cinta
Anonim mengatakan…
Teruslah hidup Mawar. Kamu keindahan yang hawa. Ciptamu adalah penabur kesejukan. Rawatlah hatimu dalam syair syira,
Anonim mengatakan…
Bukan kesalahan dari sebab atau hasil akibat. Ini mutlak kamu harus yakin dengan pilihan hatimu, Rahayu.

Postingan populer dari blog ini

meramu;

Sedikit ruam tidak merubah apapun;

Tidak lagi ada aman yang aku cari.