Sedikit ruam tidak merubah apapun;
Napasku sudah tersenggal, bagaimana mungkin asam lambungku tak lagi naik saat dunia menyayatku dengan kecewa yang tidak hanya sekali. Aku masih hafal bulat-bulat janji hingga sumpah serapah, terngiang-ngiang sampai malam—pun enggan memberikanku sedikit saja jeda untuk beristirahat. Berkali-kali tubuhku ditusuk benda tajam, memang tak berdarah, tapi lebam sudah bersemayam, nyeri, keungu-unguan meski tidak tersentuh—pun namun terasa, sakit sekali. Pesakitan atas apa yang telah aku terima membuat pertahanan yang merubah warnaku, sesekali aku bisa menjadi merah menyala, biru laut, bahkan jingga yang hampir mati. Sehingga sejak itu aku berani merayakannya, merayakan apa yang telah terjadi di tahun-tahun kebelakang. Sialnya apa yang telah berlalu menjadikan kepalaku semakin keras, sabar yang tak selalu surut, jantung yang tak lagi hangat dan aku seperti menjadi aku yang bukan aku. Namun perayaan atas dasar diriku sendiri ternyata tak mudah diterima jiwa lain begitu saja, aku menyadari ketaku...