Halaman ke—1, Lunar dan Ingatan yang beku
Hari ini hari Jumat. Malam ini aku dan Lunar membuat janji untuk bertemu di salah satu kedai kopi dekat kampus. "Habis isya ya." layar gawaiku menyala, dan benar itu pesan text dari Lunar. "Iya, sampai bertemu." ku balas pesannya. Sebisa mungkin aku harus datang tepat waktu, karena Lunar adalah seorang yang selalu tepat waktu, aku tak ingin ia menunggu. Pernah sekali waktu itu, aku telat menjemputnya, dan kau tahu? sepanjang perjalanan ia hanya diam. Sungguh itu sangat mengerikan, sejak saat itu aku tak lagi mau mengulanginya. Dan benar saja, ketika aku sampai, Lunar sudah duduk di meja nomor 8. "Hei, sudah lama sampai?" tanyaku sembari duduk. "Engga kok." jawabnya singkat, seperti biasa. "Kenapa engga disitu?" aku menunjuk meja kosong yang menurutku posisinya lebih enak untuk mengobrol. "Engga disini aja." seperti biasa lagi, tanpa penjelasan. "Oh oke baiklah," jawabku menurut. Aku segera memesan kopi hitam, dan ten...