Tidak lagi ada aman yang aku cari.
Pernah sampai pada seseorang, bahwa percayaku sulit untuk ada, aku berikan amanku pada mereka yang kupilih, aku sampaikan padanya bahwa tidak ada penawar jika suatu saat ada yang meruntuhkannya. Saat itu kubiarkan ia menelusuri setiap rongga, ruang, sudut, hingga bagian yang sulit terjangkau karena kuberikan hampir separuh—aku padanya. Aku tercipta dari sayatan-sayatan kecil yang terjerembab pada memori melankolis yang sialnya, orang-orang mengira bahwa bagian itu hanyalah tampilan yang sengaja dikemas untuk siapa saja yang hanya ingin tahu, sedang sebenar-benernya jiwa sudah babak belur mencari tempat aman yang bukan sekadar singgah. Paru-paruku perlahan mengikis kehabisan oksigen, jantungku mendidih hingga tidak ada lagi air yang dapat mengalir dipelupuk mata. Jiwa kecil ini memohon tempat untuk merebah, mencari-cari masih adakah tempat hangat yang dapat memeluk tanpa melihat seperti apa yang kebanyakan orang lain lihat. Tapi ternyata aku kembali dihadapkan pada ketakutan yang se...