atau, hati adalah kantung air mata?
Tawa bagiku adalah perihal kesedihan paling mendalam yang aku rasa. Tangis bagiku adalah kebahagiaan yang tak satu orang—pun miliki selain aku. Satu keinginan yang mungkin bukan aku saja yang menginginkannya; pergi ke puncak gunung, bersusah payah mendakinya dan akan kujadikan kebahagiaan tersendiri untukku dan mereka yang sama sepertiku. Aku pernah bermimpi menjadi matahari, agar aku tak pernah bertemu dengan malam. Karena malam membuatku melihat seseorang menangisi hidupnya disetiap kegelapan, sejak itu malam untukku adalah mimpi buruk yang tak pernah kunjung usai. Dan rasa yang aku rasa, tak seorang pun mengerti rasa yang aku rasa. Janji yang aku terima hanya sekadar membuat simpul diwajah lalu hilang begitu saja. Mereka pun tahu akan hal itu, namun aku masih tak mengerti, mengapa manusia senang membuat janji-janji. Ini gelas ketiga, dan tulisanku baru sepertiga, aku yakini takkan selesai mungkin hingga gelas keempat bahkan kelima. Pemikiranku terlalu penuh untuk hal-hal yang t...