Postingan

meramu;

Aku hampir tak mengenal diriku.  Kepalaku kosong tak ada kata-kata yang bisa aku tumpahkan belakangan ini. Aku seperti berada dalam pusara yang telah lama tak pernah dikunjungi bahkan diberi doa sekalipun. Terkadang rasanya waktu berjalan cepat namun juga sangat lambat, entah; Banyak hal yang seharusnya bisa kita uraikan disela-sela jam sibuk, seharusnya.  Kini energiku terkikis hampir tak tersisa, tak ada lagi sumpah serapah, beberapa kesempatan kubiarkan lewat begitu saja—  Kamu, dan tulisan ini benar-benar mengurasku habis. Kali ini kubiarkan semuanya [tak] selesai, kubiarkan semua pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama menggantung begitu saja, kubiarkan semua "mengapa" yang tak pernah terucap dari mulutmu tanpa ada jawaban apapun. Seperti sekarang aku biarkan semuanya berjalan tanpa aba-aba, lagi. Lambat laun semua akan terasa biasa saja, dan kita semakin menikmati rasa yang entah seperti apa.  Meski rasanya bisa diraih, nyatanya tanganmu tak pernah terasa pas di ...

Sedikit ruam tidak merubah apapun;

Napasku sudah tersenggal, bagaimana mungkin asam lambungku tak lagi naik saat dunia menyayatku dengan kecewa yang tidak hanya sekali. Aku masih hafal bulat-bulat janji hingga sumpah serapah, terngiang-ngiang sampai malam—pun enggan memberikanku sedikit saja jeda untuk beristirahat. Berkali-kali tubuhku ditusuk benda tajam, memang tak berdarah, tapi lebam sudah bersemayam, nyeri, keungu-unguan meski tidak tersentuh—pun namun terasa, sakit sekali. Pesakitan atas apa yang telah aku terima membuat pertahanan yang merubah warnaku, sesekali aku bisa menjadi merah menyala, biru laut, bahkan jingga yang hampir mati. Sehingga sejak itu aku berani merayakannya, merayakan apa yang telah terjadi di tahun-tahun kebelakang. Sialnya apa yang telah berlalu menjadikan kepalaku semakin keras, sabar yang tak selalu surut, jantung yang tak lagi hangat dan aku seperti menjadi aku yang bukan aku. Namun perayaan atas dasar diriku sendiri ternyata tak mudah diterima jiwa lain begitu saja, aku menyadari ketaku...

Tidak lagi ada aman yang aku cari.

Pernah sampai pada seseorang, bahwa percayaku sulit untuk ada, aku berikan amanku pada mereka yang kupilih, aku sampaikan padanya bahwa tidak ada penawar jika suatu saat ada yang meruntuhkannya. Saat itu kubiarkan ia menelusuri setiap rongga, ruang, sudut, hingga bagian yang sulit terjangkau karena kuberikan hampir separuh—aku padanya. Aku tercipta dari sayatan-sayatan kecil yang terjerembab pada memori melankolis yang sialnya, orang-orang mengira bahwa bagian itu hanyalah tampilan yang sengaja dikemas untuk siapa saja yang hanya ingin tahu, sedang sebenar-benernya jiwa sudah babak belur mencari tempat aman yang bukan sekadar singgah. Paru-paruku perlahan mengikis kehabisan oksigen, jantungku mendidih hingga tidak ada lagi air yang dapat mengalir dipelupuk mata. Jiwa kecil ini memohon tempat untuk merebah, mencari-cari masih adakah tempat hangat yang dapat memeluk tanpa melihat seperti apa yang kebanyakan orang lain lihat. Tapi ternyata aku kembali dihadapkan pada ketakutan yang se...

Tapak Tilas

Kita bersepakat untuk menanam serta merawat bunga-bunga di pekarangan agar menjadi makhluk cantik, meski disepanjang tumbuhnya kita tahu akan ada hujan, badai, tentu dengan sumpah serapah.   Berbicara tentang hal-hal yang menyakiti, saling melukai tanpa disadari, menjadi makanan sehari-hari, tetapi semua pesakitan selalu saja melebur begitu saja dan kita masih menikmati prosesnya. Manusia  memang begitu, keras teriak begitu angkuh, sialnya ketika semua berubah merapal doa-pun enggan bahkan ketika tak lagi berjalan pada porosnya, yang lagi-lagi disalahkan adalah semesta. Hari-hari kini terasa berjalan semakin lambat, seakan memaksa menikmati detik demi detik—jam demi jam penuh dendam, seperti seakan menampar dengan kenyataan bahwa seseorang tidak bisa selamanya tetap tinggal, seseorang berhak akan dirinya untuk datang dan pergi. 2020 / Mei / Tuan putri / sajakliar / direct message / cerita aneh / psbb / Agustus / pertemuan pertama / H.Runa 3 / ke—Faisal / kedai Bacek / kampus ...

Semoga, Tuhan tidak sebut kita sia-sia

Bagian 1—  https://flowroses.blogspot.com/2021/10/tamu-hati.html Dan ya, lagi-lagi aku keliru. Tuntutan, keserakahan dan kedengkian akan dunia yang penuh dengan ambisi terus menghantui. Rasa ego yang berkecamuk, serta kerasnya kepala membuat takut jika pada akhirnya sebuah kabar tak lagi menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Aku tak ingin apa yang selama ini terbayang dipikiran dan apa yang aku tulis hanyalah bualan belaka, karena ternyata aku tak mampu menjadikannya sebuah imajinasi yang nyata. Sedang setiap hari yang kita lalui terasa semakin berat. Hampir saban hari aku berduka pada hari-hariku disetiap kebisingan, menyendiri lalu terisak dan nyatanya menahan segala apapun tak lagi cukup mudah, semuanya kian menyiksa.  Kamu bilang tak perlu aku menangis, Lalu, adakah yang dapat mendefinisikan duka selain tangis? Aku tak mengerti apa yang aku rasa, rasional menjadi begitu emosional akhir-akhir ini. Lelahku berubah menjadi amarah yang menghancurkan ketenangan dan kerianganku....

Pengaduan hari ke-164

Darsono, anak perempuanmu itu masih saja menjual kesedihannya, ia menuntut orang-orang disekitarnya untuk merasakan apa yang ia rasa, katanya biar semua orang tahu bahwa tak ada yang paling menyedihkan dari ditinggal karena kematian, ia selalu memaksa orang-orang memahaminya apalagi kepada yang ia percayai, katanya biar ia tak merasa sendiri, katanya biar dunia tahu bahwa saat ini ia butuh cinta-cinta yang lain, ia bahkan mengiba-iba pada dunia yang kau pun tahu bahwa dunia begitu kejam bahkan tak sudi melihat sedunya, apa kau tidak pernah memberitahunya? Darsono! anak perempuanmu itu masih saja tertunduk lesu, hampir setiap hari tak pernah ia lewatkan lagu sulung milik kunto aji, sehabisnya? air matanya selalu tumpah Darsono! Air matanya cetek sekali, padahal sudah kusuruh berdoa saja tapi katanya sudah, sejak kematianmu, anak perempuanmu itu selalu merasa menjadi manusia paling menyedihkan di bumi, apa kau tidak pernah mengajarinya bahwa di bumi tidak ada yang abadi? begitupun denga...

Tamu Hati

Cinta adalah perkara saling menerima, membiarkan benda asing memasuki rongga tubuhmu, barangkali asing itu sudah betulan meresap dalam rusukmu ikut kembang kempis bersama diafragma. Sejak itu, kamu mulai mengenalinya, membiasakannya tentang hal apa yang belum dan bahkan sebelumnya tak pernah ada dalam hidupmu, setiap pagi, siang, sore, bahkan malam, seperti itu berulang lagi. Namun cinta suka keliru, penerimaan yang kamu agungkan mulai mengubah satu demi satu menjadi sebuah tuntutan, rasa percaya dirimu yang begitu tinggi mengira bahwa ia akan menjadi apa saja yang kamu mau.          Sedang Kamu siapa hingga merasa paling bisa mengubahnya?   Kamu sadar bahwa kamu hanyalah asing yang tiba-tiba hadir dihidupnya. Namun kamu selalu begitu kuat memaksa apa yang bukan menjadi kendalimu dan akhirnya kamu memakluminya, memaklumi segala apa yang tidak biasa bagimu untuk menjadi biasa, meski pemakluman itu pernah begitu mencekik hatimu sendiri dan meng...

atau, hati adalah kantung air mata?

Tawa bagiku adalah perihal kesedihan paling mendalam yang aku rasa. Tangis bagiku adalah kebahagiaan yang tak satu orang—pun miliki selain aku. Satu keinginan yang mungkin bukan aku saja yang menginginkannya; pergi ke puncak gunung, bersusah payah mendakinya dan akan kujadikan kebahagiaan tersendiri untukku dan mereka yang sama sepertiku. Aku pernah bermimpi menjadi matahari, agar aku tak pernah bertemu dengan malam. Karena malam membuatku melihat seseorang menangisi hidupnya disetiap kegelapan, sejak itu malam untukku adalah mimpi buruk yang tak pernah kunjung usai.  Dan rasa yang aku rasa, tak seorang pun mengerti rasa yang aku rasa. Janji yang aku terima hanya sekadar membuat simpul diwajah lalu hilang begitu saja. Mereka pun tahu akan hal itu, namun aku masih tak mengerti, mengapa manusia senang membuat janji-janji. Ini gelas ketiga, dan tulisanku baru sepertiga, aku yakini takkan selesai mungkin hingga gelas keempat bahkan kelima. Pemikiranku terlalu penuh untuk hal-hal yang t...

Mawar; Duri

Satu hari setelah hatimu remuk mungkin akan terasa seperti biasa, dua harinya penyesalan akan mulai bertamu, tiga harinya, empat harinya, satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Setiap malam kau menangis tersedu-sedu, namun setiap pagi kau kembali mengemas semuanya dengan sebaik-baiknya. Rapat sekali. Hingga tak ada satu orangpun disekitarmu yang menyadari. Kau lakukan itu berulang kali, setiap malam, setiap pagi, setiap malam, setiap pagi, setiap hari. Kau begitu sibuk mengemas dirimu yang lebam itu, yang penuh luka itu, dengan tampilan layaknya manusia tanpa cacat sedikitpun. Sedang sebenarnya tubuhmu membiru, kau terlalu sibuk menutupinya, kau pun bahkan lupa bagaimana cara menyembuhkannya, kau bahan tak sudi merawatnya. Sialnya, dua matamu yang binar itu tak mahir membuat kesepakatan denganmu. Kau boleh berteriak pada dunia untuk mengatakan bahwa kau baik-baik saja, tapi sebentar dulu, coba lihat lukamu itu, bukankah semakin menganga?  Sini duduk dulu disampingku, kuberi tahu sesuat...