Tidak lagi ada aman yang aku cari.
Pernah sampai pada seseorang, bahwa percayaku sulit untuk ada, aku berikan amanku pada mereka yang kupilih, aku sampaikan padanya bahwa tidak ada penawar jika suatu saat ada yang meruntuhkannya. Saat itu kubiarkan ia menelusuri setiap rongga, ruang, sudut, hingga bagian yang sulit terjangkau karena kuberikan hampir separuh—aku padanya.
Aku tercipta dari sayatan-sayatan kecil yang terjerembab pada memori melankolis yang sialnya, orang-orang mengira bahwa bagian itu hanyalah tampilan yang sengaja dikemas untuk siapa saja yang hanya ingin tahu, sedang sebenar-benernya jiwa sudah babak belur mencari tempat aman yang bukan sekadar singgah.
Paru-paruku perlahan mengikis kehabisan oksigen, jantungku mendidih hingga tidak ada lagi air yang dapat mengalir dipelupuk mata.
Jiwa kecil ini memohon tempat untuk merebah, mencari-cari masih adakah tempat hangat yang dapat memeluk tanpa melihat seperti apa yang kebanyakan orang lain lihat.
Tapi ternyata aku kembali dihadapkan pada ketakutan yang selama ini aku simpan, kekecewaan yang aku terima membuatku semakin terbiasa. Kalimat pujian tidak lagi menembus lapisan yang selama ini aku jaga serapih di etalase kaca, semua yang mudah terasa berbelit-belit bahkan terkesan kosong.
Sejak itu; tentang kusimpan pada tubuhku,
pada kepalaku, pada dadaku, akan kulakukan [lagi] sendiri.
Kini luka kembali sayat,
Aku benar-benar kehabisan waktu,
serta aku, tidak lagi ingin mempercayai siapapun.
—roses
Komentar
Posting Komentar