Tapak Tilas
Kita bersepakat untuk menanam serta merawat bunga-bunga di pekarangan agar menjadi makhluk cantik, meski disepanjang tumbuhnya kita tahu akan ada hujan, badai, tentu dengan sumpah serapah.
Berbicara tentang hal-hal yang menyakiti, saling melukai tanpa disadari, menjadi makanan sehari-hari, tetapi semua pesakitan selalu saja melebur begitu saja dan kita masih menikmati prosesnya. Manusia memang begitu, keras teriak begitu angkuh, sialnya ketika semua berubah merapal doa-pun enggan bahkan ketika tak lagi berjalan pada porosnya, yang lagi-lagi disalahkan adalah semesta.
Hari-hari kini terasa berjalan semakin lambat, seakan memaksa menikmati detik demi detik—jam demi jam penuh dendam, seperti seakan menampar dengan kenyataan bahwa seseorang tidak bisa selamanya tetap tinggal, seseorang berhak akan dirinya untuk datang dan pergi.
2020 / Mei / Tuan putri / sajakliar / direct message / cerita aneh / psbb / Agustus / pertemuan pertama / H.Runa 3 / ke—Faisal / kedai Bacek / kampus / drama dosbing / es krim / kopi Koko / hujan / Tangerang / dolob under cover / es coklat / September / air putih / pernyataan / rencana / hati bergemuruh / Mcd—es krim—kentang / mengelap sendok dan garpu dengan tisu sebelum makan / wisuda / covid / rumah Permata / Pasar Lama / cemburu / lulus / Hutari / barber shop / puisi bersuara / analog / memutari kota / 2021 / tahun baru / menggandeng tangan saat menyebrang jalan / rumah sakit / bunga sidang / Pancoran-Depok / Yupi / kehilangan / makam / menangis / runtuh / amarah / kecewa / wisuda / tempat kopi yang penuh dengan manusia dan riuh dikepalanya / Jakarta Barat / Mbloc / 2022 / ulang tahun / kerja / sibuk / bertengkar / mengeluh / mimisan / cincin / bahagia / Sal Priadi—Mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu / Anyer / pertikaian / dispepsia / vertigo / elli / pre-event / resign / October / melepas / hancur. Mengapa semua terbawa ke masa kita sudah tidak lagi berjalan bersama? betapa kebiasaan-kebiasaan itu kini sungguh merepotkan dan menjengkelkan. Perpisahan seharusnya memisahkan segalanya bukan?
Namun perlahan aku mengerti, dari seluruh rangkaian usahaku untuk bersembunyi, tempat persembunyian paling aman adalah justru tidak bersembunyi dan dari segala pelarian yang aku jalani, berhenti berlari adalah sebaik-baiknya pelarian yang bisa dilakukan. Meski apapun yang kutulis saat ini tidak mengubah apapun dariku [re; kita], kubiarkan memori bekerja hingga tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi penyesalan, tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada yang tertinggal dan terasa harus dirampungkan, hingga semestinya ia benar-benar harus berhenti; dan mati.
—roses
Komentar
Posting Komentar