Pengaduan hari ke-164
Darsono,
anak perempuanmu itu masih saja menjual kesedihannya, ia menuntut orang-orang
disekitarnya untuk merasakan apa yang ia rasa, katanya biar semua orang tahu
bahwa tak ada yang paling menyedihkan dari ditinggal karena kematian, ia selalu
memaksa orang-orang memahaminya apalagi kepada yang ia percayai, katanya biar
ia tak merasa sendiri, katanya biar dunia tahu bahwa saat ini ia butuh
cinta-cinta yang lain, ia bahkan mengiba-iba pada dunia yang kau pun tahu bahwa
dunia begitu kejam bahkan tak sudi melihat sedunya, apa kau tidak pernah
memberitahunya?
Darsono! anak perempuanmu itu masih saja tertunduk lesu, hampir setiap hari tak pernah ia lewatkan lagu sulung milik kunto aji, sehabisnya? air matanya selalu tumpah Darsono! Air matanya cetek sekali, padahal sudah kusuruh berdoa saja tapi katanya sudah, sejak kematianmu, anak perempuanmu itu selalu merasa menjadi manusia paling menyedihkan di bumi, apa kau tidak pernah mengajarinya bahwa di bumi tidak ada yang abadi? begitupun denganmu kan? Katanya juga ia begitu sedih karena kau belum pernah melihat ia menangisi cintanya, katanya baru saja ia mulai berani membicarakan tentang hal itu, belum sempat ia sebut siapa lelaki itu Darsono, belum banyak kau dengarkan risaunya Darsono! tapi kau?
Darsono, kasihan sekali, katanya anak perempuanmu itu ingin selalu menjadi putri kecilmu saja yang merengek meski tak selalu kau turuti maunya, tetapi saat kau masih adapun kau sudah memaksanya menjadi dewasa, bahkan setelah kematianmu—pun lagi-lagi kau memaksanya menjadi dua kali lebih dewasa? apa ini tujuanmu? Biar ia sekuat yang kau perkirakan? Nyatanya ia masih saja menangis, masih sampai saat ini Darsono.. bahkan barusan saja air matanya tumpah lagi Darsono..
Darsono! anak perempuanmu itu katanya marah padamu, katanya mengapa kau begitu tega meninggalkan semuanya, belum cukup titahmu padanya Darsono.. katanya masih banyak pertanyaan yang menggantung, ia butuh jawabmu Darsono.. kasihan sekali ia..
sekarang anak perempuanmu itu mengemis doa, tetapi katanya bukan untukmu? tetapi untuknya? Sebab katanya sudah penuh doa-doa yang diberikan untukmu, maka dari itu Darsono, ku doakan diriku agar esok hari tegap langkahku, kokoh bahuku.
Darsono, kusudahi dulu pengaduanku hari ini, semoga tidak lagi aku jumpai anak perempuanmu yang menjual kesedihannya itu.
akan selalu di kenang, 17 Juni 2021πΉ
Sal Priadi - Gala Bunga Matahari
Komentar
Posting Komentar