RISAK
Suatu hal yang tak diduga ini tetiba datang tanpa memberi aba-aba. Dimulai dari sekadar sapa hingga menyambung dan berlanjut ke ruang obrolan yang tak ada ujungnya. Lihat saja riwayat pesan kita kemarin, kemarin lusa, kemarin minggu, tak ada arahnya namun anehnya tak juga terputus.
Alih-alih jika bisa mengutuk malam yang mengharuskan kita untuk beristirahat, mungkin sudah kita hapus ia dari daftar hari kita agar tak ada sedikit—pun jeda.
Sialnya, suatu yang mengerikan ini datang menghampiri secara perlahan. Awal mula terjadi lewat percakapan basa-basi, "Sedang apa?" Sampai mendoakan, "Semoga hari-mu menyenangkan!".
Awal di—mana engga ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam lima menit dari sekarang dan lima menit setelahnya.
Hampir setiap pukul dua pagi cerita acak memenuhi ruang percakapan kita.
Hingga kita tiba di pukul tiga, sampai akhirnya riuh-riuh kepala yang lagi-lagi tak pernah kita undang mulai berdatangan, dan mulai terlontar pertanyaan diluar batas kita yang hanya manusia. Pertanyaan bising yang memaksaku untuk berpikir mencari jawaban yang sebenarnya jawaban itu hanya bisa kita dapatkan dari waktu.
Sekarang, kita terlalu naif untuk menarik logika dalam hidup kita.
"Kau terus bersamaku ya?"
Lihat saja, kau pun sudah mulai cemas bukan?
Tapi ternyata kecemasanku jauh lebih dalam dari yang kuperkirakan.
Kecemasan yang kita buat di setiap pukul dua sampai tiga pagi itu sudah berhasil mengusik hari-hariku.
Bagimana soal kemarin malam? Soal kau ingin mengajakku melaut bersama, kau yang jadi nahkodanya dan aku yang perhatikan petanya?
Bagimana tentang daftar keinginan kita? Pergi ke bulan dan mengelilingi angkasa?
Bagaimana hariku esok?
Bagaimana, aku, setelah ini?
—roses
Komentar
like like.. ;)
Posting Komentar