Halaman ke—1, Lunar dan Ingatan yang beku
Hari ini hari Jumat. Malam ini aku dan Lunar membuat janji untuk bertemu di salah satu kedai kopi dekat kampus.
"Habis isya ya." layar gawaiku menyala, dan benar itu pesan text dari Lunar.
"Iya, sampai bertemu." ku balas pesannya.
Sebisa mungkin aku harus datang tepat waktu, karena Lunar adalah seorang yang selalu tepat waktu, aku tak ingin ia menunggu.
Pernah sekali waktu itu, aku telat menjemputnya, dan kau tahu? sepanjang perjalanan ia hanya diam. Sungguh itu sangat mengerikan, sejak saat itu aku tak lagi mau mengulanginya.
Dan benar saja, ketika aku sampai, Lunar sudah duduk di meja nomor 8.
"Hei, sudah lama sampai?" tanyaku sembari duduk.
"Engga kok." jawabnya singkat, seperti biasa.
"Kenapa engga disitu?" aku menunjuk meja kosong yang menurutku posisinya lebih enak untuk mengobrol.
"Engga disini aja." seperti biasa lagi, tanpa penjelasan.
"Oh oke baiklah," jawabku menurut.
Aku segera memesan kopi hitam, dan tentu tanpa kutanya aku pesan juga es coklat, untuknya, Lunar sangat menyukai coklat.
Setelah selesai memesan, aku kembali duduk dan sekitar lima belas menit kami diam tanpa pembicaraan. Aku tahu Lunar sedang tidak baik-baik saja dan demi Tuhan aku takut salah bicara.
"Kamu pernah punya kenangan buruk?" Lunar memulai,
Oh akhirnya ia menyapu sunyi ini.
"Ehm, pernah." Jawabku.
"Sekarang sudah lupa?"
"Sudah,"
Pesanan kami datang,
"Terima kasih mas." Katanya sambil tersenyum dan segera meminum coklatnya,
"Gimana caranya?" tanyanya lagi.
"Ya lupa gitu aja,"
Lunar menghela napas, sepertinya ia sedikit kecewa karena jawabanku tidak memenuhinya.
"Kenapa memang?" tanyaku.
"Eh! Lihat deh, dua orang disana," Oh sial, ia mengalihkan pertanyaanku.
Aku menoleh kebelakang, karena kebetulan aku duduk di depannya, dan posisi duduk Lunar menghadap sebuah jalan.
"Kenapa?" Aku kembali menghadap ke arahnya.
"Pasti mereka adalah sepasang kekasih."
"Sok tahu."
"Cepat lihat lagi!"
Aku kembali menoleh kebelakang,
"Tuhkan benar, ceweknya lagi ngambek,"
Aku masih menoleh kebelakang dan tak merespon,
"Cowoknya pasti bingung gimana caranya supaya ceweknya engga marah lagi." ia masih melanjutkan ke-sok tahuannya itu.
Tak lama dua orang yang Lunar bilang adalah sepasang kekasih itu pergi dari tempat tersebut, dan aku kembali menghadap ke arahnya.
"Cewek tuh gitu ya, kalau marah kadang susah ditebak." Lunar berbicara seolah-olah ia bukanlah seorang perempuan.
"Kayak kamu dong?"
"Enggaklah, aku mah beda. hahahahhaa" katanya sambil tertawa.
"Iya tinggal sogok aja sama es coklat, kalau engga es krim."
"Hahahahhaa" ia tertawa lagi.
Ah, matanya ikut tertawa, aku sangat menyukai saat ia tertawa, sungguh jika orang lain melihat tawanya, aku yakin orang itu akan setuju denganku bahwa senyumnya sangat manis.
//
Tak terasa sudah hampir tiga jam aku mendengar ocehannya Lunar yang kadang sedikit konyol. Contohnya begini, tadi ia membahas mengapa ia memilih meja yang tadi kami duduki, katanya meja itu meja yang bagus, karena memiliki angka delapan, dan katanya angka delapan adalah angka yang bagus.
Aku tanya mengapa bagus? katanya karena angka delapan tak ber—pangkal dan tak ber—ujung.
Sambil telunjuknya menulis angka delapan di telapak tanganku.
Lalu ku tanya bagaimana dengan angka Nol? Angka Nol juga tak memiliki pangkal dan tak berujung.
Lunar terlihat berpikir sebentar dan segera menyanggah.
"Iya, tapi angka Nol kesepian. Pokoknya aku suka angka delapan."
Aku mendengarkan dan tak membantah.
Sering kali aku tak mengerti pernyataannya dan anehnya aku menyukai pemikirannya yang acak itu.
Dan sepanjang perjalanan pulang kami tak banyak bicara, lebih tepatnya Lunar tak ingin berbicara karena beberapa kali aku mulai mengajaknya bicara ia diam tak merespon.
Kami tiba di depan rumah Lunar kira-kira pukul sebelas lewat lima menit.
"Terima kasih." katanya sambil memberi helmku yang ia pakai.
"Oh ya, tadi,"
"Apa?" ia memberiku jeda.
"Kau tahu kenapa kau sulit melupakan kenangan buruk? Karena ingatan diciptakan untuk mengabadikan luka, isi kepala kita cuma inget yang banget-banget dan ingatan yang 'sangat' akan melekat di kepala. Ohya, tentang angka Nol, ia tak pernah kesepian." Kataku pamit.
Dan ku lihat ia, di spion motorku;
Lunar bergeming.
/
Usang — Danilla
Agustus, 2020. semoga lekas pulih.
Komentar
Posting Komentar